12 Des 2009

Lintang (Beberapa Cuplikan Dari Buku Laskar Pelangi)


~Hal yang tak akan pernah kulupakan adalah bahwa pagi itu aku menyaksikan seorang anak pesisir melarat, temanku sebangku, untuk pertama kalinya memegang pensil dan buku…ia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur hidupku.

~Ia akan sekolah disini lalu pulang pergi tiap hari naik sepeda. Jika panggilan nasibnya memang harus menjadi nelayan maka biarkan jalan kerikil batu 40 kilometer mematahkan semangatnya.

~“Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak. Menghalang ditengah jalan…aku tak akan pulang gara-gara buaya bodoh ini…tahukah hewan ini pentingnya pendidikan?”

~…tak sehari pun ia pernah bolos. 80 kilometer pulang pergi ditempuhnya dengan sepeda tiap hari. Tak pernah mengeluh.

~Jika tiba dirumah ia tak langsung beristirahat melainkan…bekerja sebagai kuli kopra…sebagai kompensasi terbebasnya dia dari pekerjaan dilaut serta ganjaran yang ia dapat dari “kemewahan” bersekolah.

~Seperti Mahar, Lintang berhasil mengharumkan nama perguruan Muhammadiyah.

Hari ini aku belajar bahwa setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita…keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban diluar perkiraan.




Ibunda guru,
Ayahku telah meninggal, besok aku akan sekolah.
Salamku, Lintang

~Kami melepas seorang sahabat genius asli didikan alam, salah seorang pejuang Laskar Pelangi lapisan tertinggi…yang mengangkat derajat perguruan miskin ini.

~Inilah kisah klasik tentang anak pintar dari keluarga melarat…Aku tak sanggup menatap wajahnya yang pilu.

12 TAHUN KEMUDIAN
~Pria yang menyapaku…kotor, miskin, hidup membujang, dan kurang gizi, ia adalah Lintang.

~Terlihat jelas ia kelelahan melawan nasib…tubuhnya kurus dan ringkih…kerinduannya pada bangku sekolah tentu membuatnya perih.

~Pikiranku melayang membayangkan…, naik mimbar, membawakan sebuah makalah di sebuah forum ilmiah yang terhormat…Namun, hari ini Lintang ternyata hanya seorang laki-laki kurus yang duduk bersimpuh menunggu giliran kerja rodi.

~“Jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tak jadi nelayan…”

aku marah, aku kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Aku mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.




30 Nov 2009

W.S. Rendra


Sudah sejak lama aku mengidolakan (alm)W.S. Rendra bersama dengan begawan sastra lainnya seperti Taufik Ismail, Sutradji C.B., Chairil Anwar,dll. Kepergian "Si Burung Merak" tentunya menjadi kabar sedih bagi semua penggemar dan khususnya dunia kebudayaan dan kesenian tanah air. Indonesia kehilangan salah satu "pendekar seni budaya"nya yang tangguh, yang sangat vokal menyuarakan derita rakyat dan membenci ketidakadilan dan kemunafikan. Penyair yang cukup disapa Rendra ini meninggal pada 6 Agustus di RS Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat, pukul 22.00 karena penyakit jantung koroner yang dideritanya. Semoga amal ibadahnya diterima dan diberi tempat yang layak disisi Allah SWT. Amin...


SAJAK SEBATANG LISONG

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka


matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
....................

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian

bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
....................

kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

( ITB Bandung , 19 agustus 1977 )






Malam Hari Adalah Prime Time


Malam hari adalah waktu yang "ramah". Mencari inspirasi dan ide dalam hening atau riuh suara jangkrik terasa benar nikmatnya. Bagi aku pribadi, malam adalah saat cairnya beragam masukan yang sepanjang hari terendap dalam memori. Masukan-masukan ini lalu diolah oleh mesin bernama "motivasi untuk mencipta" menjadi bermacam karya tulis/sastra seperti puisi, esai, cerpen, dll.


Ada cerita lain mengenai malam. Setelah aku periksa beberapa dari kumpulan puisiku yang berserakan dalam sobekan-sobekan kertas, aku baru tahu sesuatu. Aku baru tahu kalau sebagian besar puisi itu menyisip kata "malam", sebagai arti sebenarnya ataupun sebagai metafor dari kejadian, perasaan, dll. Contoh saja, aku redup dihimpit malam/jadi bayang tiang-tiang rapuh. Atau, malam segelap apa menyamai sedihmu/tak secuil getir kecuali menempel mengiris-iris kalbu.


Kalau dinginmu menusuk

bagai puisi satir

Biarkan taburan gemintang

kurangkai jadi syair

Malam, entah kenapa, selalu ada dalam kamus kata-kata favoritku yang menonjol untuk dituliskan. Mungkin kebanyakan karya yang aku buat( utamanya puisi) berangkat dari perasaan sedih, gelisah, terpuruk. Aku memang menjadikan kegiatan menulis sebagai wadah untuk menumpahkan isi hati. Apa yang aku rasakan harus ditulis. Terlebih jika berkaitan dengan emosi. Sebuah riset membuktikan jika seseorang dengan emosi labil disuruh mengapresiasikannya (apa yang terjadi, bagaimana perasaannya,dsb) dalam sebuah tulisan, tingkat pemulihan psikisnya akan berjalan lebih cepat dan efektif. Berminat? coba saja.



Sebagai penulis pemula/amatir, aku harus produktif. Tapi kegiatan yang ramai dipagi sampai sore hari selalu merintang. Maka malam hari, sekali lagi, adalah waktu yang "ramah". Ada motivasi yang aku jadikan motor penggerak bagiku untuk selalu bersahabat dengan pena, kertas, dan malam. Mimpi untuk menjadi penulis profesional. Bisakah? lihat saja.


Puisi Cinta Si Binatang Jalang



SIA-SIA
Penghabisan kali ini kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

LAGU BIASA
Di teras rumah makan kami kini berhadapan
Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam
Masih saja berpandangan
Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan "Carmen" pula.
Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari
Ketike orkes memulai "Ave Maria"
Kuseret ia ke sana....
Maret 1943

PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi
Maret 1943

1944
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah....

MULUTMU MENCUBIT DI MULUTKU
Mulutmu mencubit di mulutku
Menggelegak benci sejenak itu
Mengapa merihmu tak kucekik pula
Ketika halus-perih kau meluka??
12 Juli 1943




Semua puisi diatas saya sadur dari antologi puisi Chairil Anwar AKU INI BINATANG JALANG Kumpulan sajak 1942-1949, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.






28 Nov 2009

Derita Gaza Derita Kita


Rafah Saat Genosida

Kota yang terbelah*
Batas angkuh memisah
asa dan pilu
Kami gigil menunggu
Seberang makbar
Langit merah dibakar

Dentum misil
Sayup tangis si kecil
Tak gerimis hatinya
Di Mesir-Rafah, otoriti
berpaling muka!
"Buka, tuan, kami bawa
tanda cinta dan duka!"
Januari 2009


ket.*: Kota Rafah terbagi 2 wilayah yaitu Rafah-Mesir dan Rafah-Palestine. Keduanya dipisahkan oleh makbar(gerbang) Rafah dan jalan penghubung antarmakbar sepanjang 100 meter


Kepada Samuni*

Kata Chairil, nasib adalah
kesunyian masing-masing
Saat muram kota dijamah
Merkava meludah tanpa arah
Kau jadi tahu aturan pilu
Waktu-nasib berkorelasi tak peduli
Terlanjur diputar-terluka yang akbar
Moncong setan mendebum benteng duka
37 nyawa dibantai sia-sia!!!

Saudaraku,
malam segelap apa menyamai sedihmu
Tak secuil getir kecuali
menempel mengiris-iris kalbu
Tempat derita Gaza menyerbu
Januari 2009

ket.*: Samuni adalah warga Gaza yang kehilangan 37 anggota keluarganya akibat tempat persembunyian mereka ditembaki tank merkava milik zionis Israel saat perang kota. Beliau sendiri selamat dari kejadian karena keluar rumah mencari makanan dan minuman untuk persediaan logistik.

Kutu Buku Dan Pribadi Introvert


Dalam wikipedia disebutkan, introvert adalah ketertutupan, biasanya karena pilihan. Introvert adalah pribadi yang bersifat menyendiri dan biasanya lebih pendiam dan tertutup, sedikit bicara dan lebih suka menjadi pendengar yang baik dalam suatu kelompok atau lebih suka menyendiri di rumah daripada harus berkumpul dengan orang lain.Mereka lebih suka membaca, kesenian, menulis, atau berjam-jam duduk di depan komputer. Kegiatan kelompok terkadang dapat begitu memprovokasi para introvert sehingga mereka akhirnya malah berpikir mengenai diri mereka sendiri, introspeksi dan diam, di tengah percakapan yang seru. Orang yang introvert biasanya pendiam, sensitif, gampang terprovokasi, dan memiliki sedikit teman daripada kerumunan orang (apakah anda masuk dalam klasifikasi?).


Memang pribadi introvert selalu dikaitkan dengan golongan kutu buku. Banyak yang berpandangan demikian. Tapi apakah semua orang yang kutu buku termasuk pribadi introvert? Tentulah tak dapat dikatakan demikian. Demikian pula stigma lama yang terbentuk mendeskripsikan kutu buku sebagai pribadi yang kurang menyenangkan,kuper, dan memakai kacamata tebal. Malah ada yang menyebut sebagai “perpustakaan berjalan” (hehehe, yang ini pengalaman pribadi :p).




Mendukung
Bagaimanapun, aktifitas membaca buku itu perlu. Jika anda tergolong kutu buku, jangan malu disebut demikian. Berbahagialah karena anda adalah sumber ilmu, informasi, dan agen perubahan bagi sesama. Mereka yang menghina tidak lebih baik dari anda.Tapi jika anda seorang kutu buku yang juga introvert, berubahlah sikap. Pribadi introvert harus dihilangkan sedangkan sifat kutu buku harus dipertahankan. Kita adalah makhluk sosial yang butuh orang lain untuk membantu kita disaat kita butuh. Jika anda mempunyai teman introvert janganlah dijauhi, dekati ia dan jadilah teman yang baik. Apalagi jika ia seorang kutu buku. Ambillah manfaatnya (karena ia adalah agen perubahan!).